LABUHA – Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi musim kemarau yang diperkirakan berlangsung lebih kering dari kondisi normal akibat fenomena El Niño kuat hingga sangat kuat pada tahun 2026.

Imbauan tersebut disampaikan menyusul surat resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Oesman Sadik Halmahera Selatan Nomor e.B/ME.02.04/005/KLAH/VII/2026 tanggal 30 Juli 2026 tentang Himbauan Kewaspadaan Perkembangan Musim Kemarau dan El Niño Kuat hingga Sangat Kuat Tahun 2026 yang ditujukan kepada Bupati Halmahera Selatan dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Berdasarkan hasil analisis BMKG, anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 telah mencapai indeks +2,26 yang menunjukkan kategori El Niño Kuat dan diperkirakan berpeluang meningkat menjadi kategori El Niño Sangat Kuat. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Halmahera Selatan.

BMKG juga memprakirakan awal musim kemarau di Halmahera Selatan berlangsung secara bertahap. Wilayah Halmahera Selatan bagian Gane telah memasuki musim kemarau sejak Dasarian I Juli 2026, disusul Pulau Bacan dan Pulau Obi pada Dasarian II Juli 2026. Sementara itu, Pulau Makian, Pulau Kayoa, dan sebagian wilayah Gane Timur diperkirakan mulai memasuki musim kemarau pada Dasarian I Agustus 2026.

Dari sisi karakteristik musim, BMKG memprediksi sebagian besar wilayah seperti Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, dan wilayah Gane akan mengalami kondisi lebih kering dari normal, sedangkan Pulau Obi diperkirakan masih berada pada kategori normal.

Puncak musim kemarau diprakirakan terjadi pada Agustus 2026 di wilayah Pulau Obi, sedangkan wilayah Pulau Bacan, Pulau Kayoa, Pulau Makian, dan Gane diperkirakan mencapai puncak musim kemarau pada Oktober 2026. Saat ini, kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) di Halmahera Selatan masih berada pada kategori menengah, yaitu berkisar 11 hingga 20 hari berturut-turut tanpa hujan.

Selain itu, prakiraan curah hujan untuk periode Agustus hingga Oktober 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah Kabupaten Halmahera Selatan akan didominasi curah hujan kategori rendah, yakni sekitar 0–100 milimeter per bulan.

Menindaklanjuti informasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Halmahera Selatan mengajak seluruh masyarakat, pemerintah desa, serta instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi dampak musim kemarau, seperti potensi kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara bijaksana, tidak melakukan pembakaran lahan, serta terus memantau informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG sebagai acuan dalam melakukan berbagai aktivitas, khususnya di sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan.

Melalui sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan, diharapkan dampak musim kemarau dan fenomena El Niño terhadap kehidupan masyarakat di Kabupaten Halmahera Selatan dapat diminimalkan sehingga aktivitas sosial dan ekonomi tetap berjalan dengan baik.